Sebut saja Andini, rekan kerja saya yang masih single, generasi milenial, dan juga pekerja digital. Dari Senin sampai Jumat, Andini berangkat ke kantor. Terkadang ia bekerja dari rumah karena perusahaan tempat saya dan Andini bekerja menerapkan jam kerja fleksibel.

Saya juga generasi milenial, tapi sudah menikah. Saya sering bertemu dengan Andini di kantor. Kami sama-sama bekerja dengan riang gembira. Tetapi ada perbedaan mendasar ketika berbelanja. Saya sering membawa bekal makanan untuk makan siang. Tidak tiap hari tetapi sering.

Andini lain cerita. Saat makan siang, ia sering memesan makanan lewat GO-FOOD atau Grab FOOD. Ia juga sering membeli kopi kekinian di dua layanan. Apalagi kalau ada promo. Yah, Andini ada satu dari banyaknya generasi digital yang memanfaatkan ponsel untuk sekadar memesan makanan.

Lain hari, saat jam makan siang, Andini tidak memesan makanan seperti biasanya. Ia pergi ke warung makan di sebrang gedung tempat kantor kami bekerja. Warung makan ini adalah warung makan sederhana. Warung makan yang bersahabat dengan kantong para pekerja.

Meski harganya sudah bersahabat, Andini punya cara lain untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Menggunakan pembayaran digital. Warung makan ini ternyata sudah mendukung salah satu layanan dompet digital. Cara pembayaran pun tinggal melakukan pemindaian atau scanning pada kode batang atau lebih dikenal dengan QR Code.

Saat kami beli makan di tempat tersebut, Anda tinggal mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi pembayaran, kemudian memindai kode batang tersebut. Pembayaran dilakukan dengan cepat tanpa uang kertas yang kadang mesti harus ada kembalian. Untungnya dengan QR Code, s

Tidak hanya Andini yang melakukan itu. Beberapa para pekerja dari kantor lain, melakukan hal yang sama. Sesuatu yang menurut saya menarik karena pembayaran dengan QR Code ini kini bisa ditemukan di mana saja.

Tidak hanya di minimarket atau kafe ternama yang mudah sekali menerapkan teknologinya, tetapi juga di warung makan atau kantin. Malah saya pernah menemukan kode batang untuk pembayaran yang tertempel di gerobak tukang gorengan atau pedagang kaki lima lainnya.

 

QR Code, RFID, dan NFC

qr code
Sumber: commons.wikimedia.org/wiki/File:Qrcode_wikipedia_fr_v2clean.png

 

Maraknya penggunaan pembayaran menggunakan QR Code, bahkan sampai akar rumput, mengindikasikan kalau masa depan pembayaran digital adalah menggunakan QR Code. Padahal sebelum QR Code, ada sistem lain yang bisa bekerja dengan cara dan fungsi serupa, yakni RFID dan NFC.

RFID (Radio Frequency Identification) merupakan satu teknologi yang digunakan untuk memindai atau membaca suatu barang dengan memanfaatkan teknologi gelombang radio. Teknologi ini dimanfaatkan sebagai layanan pembayaran digital ketika bertransaksi secara offline. Namun, pada perkembangannya, teknologi ini mulai ditinggalkan. Alasannya karena tidak semua ponsel pintar mendukung teknologi ini.

Teknologi lain adalah NFC atau Near Field Communication. Teknologi ini adalah turunan dari RFID. Pembedanya, RFID bekerja satu arah dengan jarak komunikasi dari 10 m sampai 100 m. Sementara NFC bekerja dua arah dengan jarak komunikasi pendek, yakni kurang dari 10 cm.

Karena bekerja pada dua arah, NFC lebih populer jika dibandingkan dengan RFID. Teknologi ini pun kemudian diterapkan sebagai teknologi untuk komunikasi antar dua perangkat dengan berbagai kebutuhan. Contohnya adalah untuk memindahkan data dari satu perangkat ke perangkat lain,sebagai kunci keamanan, boarding pass, membaca informasi (contohnya mengecek saldo e-toll), dan sebagai alat pembayaran.

Sayangnya, lagi-lagi pemanfaatan NFC sebagai metode atau alat pembayaran digital kurang maksimal. Penyebabnya lagi-lagi karena smartphone atau ponsel pintar yang beredar di pasaran tidak semuanya mendukung teknologi NFC.

Teknologi NFC biasanya ada di ponsel pintar kelas atas. Namun, belakangan, fitur ini juga dapat ditemukan di ponsel kelas bawah dan kelas menengah.Sebut saja seperti Nokia 4.2, Samsung Galaxy A30s, Samsung Galaxy A50s, dan Redmi Note 8 Pro. Jumlahnya tergolong terbatas dan tidak semua orang mau memilih smartphone dengan fitur NFC.

Karena ekosistem pembayaran digital perlu berkembang, jelas metode pembayaran menggunakan NFC bukanlah tepat. Selain itu, penggunaan NFC sebagai metode pembayaran membutuhkan teknologi yang mahal. Contohnya pengadaan mesin EDC untuk NFC yang membutuhkan biaya besar.

Karena alasan itu pula dulu dompet digital T-Cash (sekarang bernama LinkAja) beralih dari teknologi NFC ke fitur pembayaran lewat QR Code. Perpindahan ini dilakukan juga agar T-Cash bisa mendapatkan lebih banyak pengguna, dalam hal ini pengguna yang memiliki ponsel dengan fitur tanpa NFC yang jumlahnya lebih besar dibandingkan pengguna yang memakai NFC.

QR Code berbeda dengan NFC dan RFID. QR Code bukanlah sebuah fitur terpisah tetapi sebuah fitur yang mudah dibaca dengan kamera smartphone. Karena smartphone zaman sekarang sudah pasti memiliki kamera (yang mahal maupun yang murah), implementasi QR Code sebagai metode pembayaran lebih mudah direalisasikan.

QR Code sendiri merupakan teknologi yang dikembangkan berdasarkan teknologi bernama Barcode. Teknologi ini diperkenalkan oleh Masahiro Hara yang bekerja untuk Denso Wave. Pada 1994, ia menemukan kode matriks dua dimensi sebagai solusi atas teknologi pemindaian barang agar lebih cepat dan mudah.

Sebelum 1994, pemindaian barang di toko retail menggunakan teknologi Barcode. Teknologi ini ternyata cukup lambat dalam membaca barang belanjaan di toko ritel yang berakibat pada panjangnya antrian di toko kasir.

Dengan teknologi QR Code, proses pemindaian jadi lebih cepat. Hal ini karena QR Code memiliki kode dua dimensi sehingga informasi bisa dikodekan dengan cara menyilang dan atas atau bawah. Sementara Barcode hanya dapat dikodekan satu dimensi alias satu arah yang membuatnya hanya bisa menyimpan informasi yang sedikit.

Di era digital dan internet, QR Code lebih meluas penggunaannya. QR Code digunakan di berbagai aplikasi untuk berbagai kebutuhan, seperti pemindaian QR Code untuk menambahkan teman di aplikasi media sosial atau digunakan sebagai tautan langsung ke situs atau aplikasi tertentu.

 

Mengapa Harus QR Code?

qr code
Sumber: pixabay.com/illustrations/hands-smartphone-barcodes-qr-1167612/

Dari pemaparan di atas, tentu bisa lebih dipahami kalau QR Code bisa lebih populer dan kenapa QR Code adalah sistem pembayaran masa depan. Saya bisa menyimpulkan jika enggunaan QR Code sebagai metode pembayaran bisa jadi dipiih karena beberapa alasan berikut ini.

  • Tidak membutuhkan alat atau fitur tertentu

QR Code bisa bekerja dengan alat pemindai. Di smartphone, alat pemindai tersebut adalah kamera yang sudah pasti ada dari mulai yang termurah sampai termahal. Berbeda dengan NFC yang membutuhkan alat khusus seperti mesin EDC untuk NFC atau smartphone dengan fitur NFC.

  • Lebih familiar digunakan

QR Code dipilih karena fitur ini hadir di media sosial. Para pengguna ponsel zaman sekarang akrab sekali dengan media sosial, terutama generasi milenial. Mereka dengan mudah bisa menambahkan teman di media sosial dengan hanya memindai kode matriks atau kode batang. Tentu penggunaan yang lebih mudah ini membuat orang lebih terbiasa memakai QR Code dibandingkan teknologi lain.

  • Lebih cepat

Saat Andini melakukan transaksi dengan menggunakan pemindaian QR Code, proses yang dibutuhkan tidak berlangsung lama. Tinggal arahkan kamera ponsel ke bagian kode batang, pindai, dan sistem akan membayar tagihan dengan memotong saldo dari dompet digital.

Ketiga alasan tersebut menurut saya yang jadi pondasi mengapa QR Code akan jadi sistem pembayaran digital yang populer dan banyak digunakan orang.

Alasan paling kuat lainnya kenapa QR Code bakal jadi sangat populer adalah karena Bank Indonesia meluncurkan standarisasi QR Code khusus untuk pembayaran digital. Standar tersebut bernama QRIS atau QR Indonesia Standart.

Kehadiran QRIS ini sebagai sebuah standar agar semua layanan dompet digital (GO-PAY, OVO, Dana, LinkAja, dan lainnya) bisa bersaing lebih sehat. QRIS juga memungkinkan semua layanan dompet digital memiliki jaringan yang sama sehingga tidak ada lagi QR Code yang eksklusif di satu layanan tertentu.

Kehadiran QRIS juga bertujuan agar pelaku industri terpacu untuk melakukan investasi dan melakukan pengembalian yang cukup baik. Pernyatan tersebut dikatakan oleh Rico Frans, Wakil Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang saya nukil dari CNBC Indonesia (Minggu, 27/10/2019).

Kehadiran QRIS serta akrabnya penggunaan QR Code di masyarakat, adalah pintu gerbang bagi terbukanya jalan menuju masyarakat tanpa uang tunai. Semua jalan tersebut akan mengarah kepada apa yang orang sebut sebagai Society 5.0, yakni sebuah konsep kehidupan masa depan ketika manusia berkolaborasi dengan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

 

Sumber:

tirto.id/qr-code-berawal-dari-kasir-menuju-digital-payment-cH3y

www.cnbcindonesia.com/tech/20190820104543-37-93213/qr-code-berstandar-ri-diluncurkan-gimana-nasib-gopay-cs

dailysocial.id/post/perlahan-beralih-dari-nfc-t-cash-resmikan-snap-qr-code

daftarhargahp.co.id/perbedaan-nfc-dan-rfid/

Follow me

Hilman Mulya Nugraha

Hilman aktif menulis sejak 2013 di beberapa situs seperti AnneAhira.com, Portal.Paseban.com, Pricebook, dan beberapa situs lainnya.Saat ini ia menulis dan menjabat sebagai editor di Carisinyal.com

Seorang technology dan Digital Enthusiast ini sempat menjadi Content Manager di Plimbi.com dan 4vision.com. Ia juga pernah beberapa kali juara lomba blog tema teknologi dan tema lain yaitu Lomba Blog Review Asus Zenfone 2 Laser 2015, Juara 2 Lomba Blog MyRepublic 2015, Juara 1 Lomba Blog Kudo Gathering Bandung 2016, Juara 2 Lomba Blog EVHIVE (Cocowork) Coworking Space 2017. Hilman juga sempat menjuarai lomba blog non teknologi sepertiJuara Harapan Lomba Blog Sunlife 2015, Juara 2 Lomba Karya Tulis Blogger Kementerian Koperasi dan UKM2017 dan Juara 3 Lomba Blog Konferensi Ayah Bunda Platinum 2017.

Selain aktif di dunia tulis menulis, Hilman juga sedang memperlajari dunia SEO dan digital marketing dan menerapkannya lewat Gawai.ID
Hilman Mulya Nugraha
Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *